Hengki Heipon, Legenda Persipura yang Pernah Menukangi Timnas
Di antara banyaknya nama legenda Persipura yang mencuat sejak dekade 1960-an, ada satu nama yang takkan terlupakan. Ia adalah Hengki Heipon. Lahir di Makassar pada 21 Mei 1946, legenda berdarah Papua-Toraja ini memulai perjalanan sepak bolanya dari kompetisi lokal Hollandia, yang kini dikenal sebagai Kota Jayapura.
Hengki menembus ketatnya persaingan kompetisi zaman Belanda di Hollandia. Ia aktif bermain di dua kompetisi sekaligus, Voetbal Bond Hollandia (VBH) dan Voetbal Hollandia en Omstreken (VHO).
Di usia 17 tahun, ia sudah merumput di lapangan Berg En Dal (Argapura) bersama Hollandia Voetbal Club (HVC), yang menjadi cikal bakal klub lokal Kayo Pulo, bersanding dengan tokoh-tokoh perintis sepak bola Papua seperti Barnabas Youwe dan Gaspar Sibi.
Berangkat dari kultur sepak bola khas Papua yang mengandalkan permainan pendek dengan kecepatan, Hengki tumbuh menjadi pemain yang cerdas dan berkarakter.
Ketika para pengelola kompetisi asal Eropa meninggalkan Hollandia pada awal 1960-an, para pesepak bola Papua sempat kehilangan wadahnya.
Namun, masa transisi tersebut justru menandai babak baru sepak bola Papua. Hengki ikut berperan dan menjadi bagian dari generasi yang merintis awal perjalanan klub sepak bola legendaris dari Papua, Persipura.
Juni 1963 menjadi momen bersejarah ketika Hengki bersama rombongan pemuda eks-VBH bertolak ke Bogor atas undangan Presiden Soekarno.
"Kaka Hengki pernah bilang waktu pergi ke Bogor itu pakai nama Persikobar, bulan Juni tahun 1963," tutur Benny Jensenem, pemain Persipura era 1970-an.
Mengusung nama Persikobar (Perserikatan Sepakbola Kota Baru), mereka melakoni tur ekshibisi yang mengejutkan publik sepak bola nasional, termasuk menaklukkan PSB Bogor 4-3 dan Persib Bandung Junior 7-2.
Setahun berselang, asisten pelatih Tim Nasional Indonesia, Djamiat Dahlar, memantau langsung potensi para pemain Papua di Ambon.
"Waktu itu, tahun 1964, ada semacam ekshibisi karena Pak Djamiat Dahlar mau lihat anak-anak Papua ini main di Ambon. Karena dia ada misi cari pemain untuk memperkuat timnas PSSI. Hengki juga ikut, dia memang pemain di situ," ujar Benny.
Sayangnya, pada momen itu Hengki dan kolega kalah telak dari tuan rumah PSA Ambon dengan skor 5-0.
Menjadi Kapten dan Perkuat Timnas
Persipura menemukan identitas barunya ketika seorang guru bernama HB Samsi ditunjuk untuk memegang kendali skuad. Samsi menempatkan Hengki di lini tengah, menjalankan peran vital sebagai pengatur tempo karena ketenangannya dan visi bermain yang luas.
Pada 1967, Persipura resmi terdaftar di PSSI dan kembali bertolak ke Ambon menumpang kapal navigasi KM Merauke. Para pemain menjuluki perjalanan laut yang penuh keterbatasan itu dengan nama "Kon-Tiki", merujuk pada rakit penjelajah Norwegia di samudra pasifik.
Perjalanan tersebut membuahkan hasil, setelah mereka membalas kekalahan dari PSA Ambon dan melaju ke Kejurnas PSSI untuk pertama kalinya usai lolos dari fase wilayah timur.
"Ketika nama Persipura resmi terdaftar sebagai anggota PSSI, kita boleh ikut kompetisi mulai tahun 1967, kembali main di Ambon. Itu skuad Persipura menumpang kapal laut KM Merauke sampai ada julukan Kontiki itu," kenang Benny.
Konsistensi penampilan Hengki membuatnya didaulat sebagai kapten Persipura mulai tahun 1968.
Jurnalis olahraga senior dan pengamat sejarah sepak bola Papua, Dominggus Mampioper, yang pernah mewawancarai langsung Hengki Heipon, mengatakan Hengki mengemban posisi kapten sejak 1968.
"Dia menggantikan kapten Persipura waktu itu, mantri Mandosir. Sejak 1968, dia jadi kapten bergantian dengan Hengky Rumere," kata Dominggus.
Hengki menyandang ban kapten Persipura dalam rentang waktu yang cukup panjang, dari tahun 1968 sampai 1977. Pada masanya, Persipura melewati berbagai momen bersejarah, dari level nasional hingga panggung Asia.
Pada masa itu, Hengki tergabung dengan sederet legenda seperti Hengky Rumere, Nico Pattipeme, Timo Kapisa, Yafet Sibi, Pieter Atiamuna, Yakobus Mobilala, Yohanis Yakadewa, Jimmy Pieters, Albert Pehelerang, Gento Rumbino, Benny Jensenem, dan pemain lainnya.
Saudara kandungnya, Tinus Heipon, juga sempat memperkuat Persipura dan berkarier di luar Papua, termasuk membela klub Warna Agung.
Kiprah Hengki di tingkat nasional diukirnya saat ia menembus skuad Tim Nasional Indonesia sejak tahun 1965 hingga 1968.
Kualitasnya sebagai gelandang modern memikat pelatih Timnas Indonesia, Endang Witarsah. Ia masuk pelatnas di usia 21 tahun, sejajar dengan bintang timnas era itu seperti Abdul Kadir dan Anwar Ujang.
"Dia pernah terpilih masuk ke timnas era pelatih Endang Witarsah. Kelebihannya dia bisa cakap bermain di semua posisi lini tengah. Dia bisa jadi gelandang bertahan dan menyerang, tipikalnya gelandang modern. Dia juga punya kemampuan bagus untuk bola-bola heading," kata Dominggus.
Pencetus Merah Hitam
Salah satu sumbangsih historis yang paling monumental dari Hengki Heipon dan generasinya di Persipura adalah inisiasi penggunaan warna merah hitam yang sampai sekarang menjadi warna kebesaran klub.
Benny Jensenem menuturkan, kostum hitam strip merah tersebut mulai dikenakan pada tahun 1973, tatkala Brigjen TNI Acub Zainal memegang kendali pemerintahan di Provinsi Irian Jaya sebagai Pangdam XVII/Cenderawasih sekaligus Gubernur.
Saat itu, Persipura yang menggunakan nama Irian Jaya Selection hendak berlaga menghadapi klub asal Jepang, Hitachi, di Stadion Senayan, Jakarta.
Hengki Heipon dan rekan-rekannya mengusulkan agar tim mengenakan jersey merah hitam seperti warna kostum AC Milan.
Acub Zainal menyetujuinya dan memaknai dua warna tersebut sebagai lambang keberanian dan daya juang tinggi.
"Waktu itu Persipura ditunjuk mewakili Indonesia untuk menghadapi Hitachi. Kemudian Hengki Heipon mulai menggagas warna kostum untuk dipakai bertanding. Dan muncullah ide merah hitam itu," kata Benny.
Dominggus Mampioper menuturkan bahwa para pemain Persipura terinspirasi dari klub raksasa Italia, AC Milan, yang sedang berjaya pada akhir 1960-an dan 1970-an, di mana Hengki merupakan salah satu penggemarnya.
"Inspirasinya memang dari klub AC Milan yang sedang berjaya pada era itu. Kendati awalnya sempat dianggap sebagai sebuah kebetulan kemiripan warna," ujar Dominggus.
Dalam laga debut Persipura berkostum merah hitam itu, mereka harus menyerah dari Hitachi dengan skor tipis 1-2.
Berguru di Jerman
Persipura semakin dikenal luas ketika Hengki Heipon dan kawan-kawan mewakili Indonesia dalam turnamen di Saigon, Vietnam Selatan (sekarang Ho Chi Minh City), pada tahun 1974.
Saat itu, Persipura mengikuti ajang Quoc Khanh Cup atau Vietnam National Day Tournament, sebuah kompetisi invitasi bergengsi yang bergulir antara tahun 1961 hingga 1974.
Dalam kejuaraan tersebut, Persipura sukses menembus babak final dan keluar sebagai runner-up setelah menghadapi tekanan berat dari tim tuan rumah.
Hengki Heipon kemudian turut berandil mempersembahkan prestasi tertinggi Persipura di panggung sepak bola nasional dengan memenangkan Piala Soeharto pada 1976.
Pada turnamen edisi ketiga itu, Hengki memimpin skuad Mutiara Hitam keluar sebagai juara setelah mengalahkan Persija Jakarta dengan skor dramatis 4-3 di laga final.
Kemenangan itu melambungkan nama Persipura sebagai kekuatan baru sepak bola nasional di era 1970-an.
Setelahnya, Hengki juga memimpin rekan-rekannya tampil di sejumlah kejuaraan di Asia seperti Kings Cup di Bangkok dan Merdeka Games di Malaysia.
Setelah memutuskan pensiun, Hengki Heipon melanjutkan kariernya sebagai pelatih, berbekal pengalaman mendampingi pelatih Persipura Choo Song On berlatih di Singapura.
Ia menjadi satu-satunya pelatih asal Papua yang mendapatkan kesempatan istimewa untuk menimba ilmu kepelatihan di Jerman Barat.
"Perjalanannya ke Jerman itu, mempertemukannya dengan pola-pola taktik modern yang tengah berkembang di Eropa, termasuk pemahaman mendalam mengenai formasi dan struktur permainan seperti Libero serta transisi pola 3-5-2 yang dipopulerkan oleh era keemasan sepak bola Jerman," kata Dominggus.
Sekembalinya dari Jerman, Hengki didapuk sebagai asisten pelatih timnas PSSI untuk tampil pada ajang kualifikasi Olimpiade tahun 1980.
Empat tahun berselang, ia diorbitkan menjadi pelatih kepala timnas PSSI perserikatan bersama Yuswardi dalam ajang Merdeka Games di Malaysia.
Di bawah nahkodanya, timnas sempat menang melawan Thailand dan menahan imbang klub elit Polandia, Lech Poznan (2-2).
Hengki juga menguasai tiga bahasa (Inggris, Belanda, dan Jerman), yang membuatnya dipinang PSSI sebagai asisten sekaligus penerjemah.
"Dia orang yang cerdas, dan bisa berkomunikasi dengan tiga bahasa. Itu yang membuatnya menjadi asisten di timnas sekaligus penerjemah," ujar Dominggus.
Hengki kemudian kembali menakhodai Persipura pada kompetisi perserikatan hingga musim 1987/1988. Benny Jensenem menuturkan, Hengki merupakan pelatih terlama yang pernah menukangi Persipura.
"Hengki Heipon pelatih yang paling banyak melatih di Persipura," kata Benny.
Di penghujung hidupnya, Hengki tercatat pernah melatih di Perseru Serui dan diangkat sebagai Ketua Kehormatan Pengprov PSSI Papua periode 2013–2017. Pada 11 Maret 2017, Hengki Heipon menghembuskan napas terakhirnya di usia 71 tahun, meninggalkan warisan sejarah yang panjang bagi sepak bola Papua.
