Kala Sentuhan Legenda Persib Hadirkan Trofi Perdana untuk Persipura
Sejarah sepak bola Indonesia pada era 1970-an juga melahirkan satu lembar kisah paling magis, tatkala panji Papua yang saat itu masih bernama Irian Jaya mulai diperhitungkan di kancah nasional. Di tengah dominasi klub-klub perserikatan, Persipura Jayapura menjelma menjadi kekuatan yang ditakuti.
Tak banyak yang tahu, di balik kesuksesan awal skuad berjuluk Mutiara Hitam tersebut, tak lepas dari tangan dingin seorang maestro lapangan hijau asal Pasundan yang juga legenda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia, Omo Suratmo.
Omo Suratmo punya nama yang harum dalam sejarah bal-balan Nusantara. Lahir di Subang pada 11 Februari 1935, ia dikenal sebagai penyerang tajam sekaligus andalan lini depan Timnas Indonesia era 1957 hingga 1961, termasuk menjadi bagian skuad Merah Putih di bawah asuhan pelatih legendaris Toni Pogacnik pada ajang Asian Games 1958 di Tokyo, Jepang.
Selepas gantung sepatu, Omo meniti karier sebagai juru taktik dan sempat menakhodai klub kebanggaan tanah asalnya, Persib Bandung.
Pada tahun 1976, sebuah babak baru dimulai dalam lembar karier kepelatihannya, ketika ia memutuskan melepaskan jabatannya sebagai pelatih kepala Persib dan menerima pinangan untuk terbang jauh ke timur Indonesia, menukangi Persipura Jayapura.
Bergabungnya Omo ke Persipura menandai momen bersejarah dalam perjalanan tim Mutiara Hitam di panggung nasional. Karena berkat racikannya, Omo Suratmo berhasil mempersembahkan trofi bergengsi bagi Persipura untuk pertama kalinya.
Kala itu, Omo menangani skuad Persipura yang dipenuhi talenta istimewa. Ada Hengky Heipon, Johanes Auri, Edi Sabenan, Yafet Sibi Benny Jensenem, Jimmy Pieter, Pieter Attiamuna, Allo Tortet, Marthen Jopari, Jakobus Mobilala, Timo Kapisa, hingga Nico Pattipeme.
Kedatangannya benar-benar membawa mentalitas juara dalam tim Mutiara Hitam, meskipun pada era itu, sepak bola nasional masih didominasi oleh kekuatan tim-tim elit Indonesia saat itu, seperti PSMS Medan, PSM Ujung Pandang, dan Persija Jakarta.
Sebagaimana dituturkan oleh salah satu penggawa Persipura di era itu, Benny Jensenem, perjalanan mereka menuju tangga juara Piala Soeharto III tahun 1976, dirintis dengan perjuangan yang berat, yang diawali dari perjalanan di kompetisi Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PSSI tahun 1975.
Ketika itu, tim yang berhak tampil di Piala Soeharto adalah klub yang berhasil masuk posisi empat besar Kejurnas. Dan Persipura jadi salah satu tim yang lolos, setelah finis sebagai semifinalis.
"Kita merangkak naik, sampai dengan puncaknya tahun 1975 kita masuk empat besar. Kita berhak untuk ikut Soeharto Cup," kenang Benny.
Benny mengisahkan, coach Omo Suratmo datang ke Jayapura direkrut langsung oleh sang manajer Persipura saat itu yang merupakan Kepala Inspeksi Pajak Irian Jaya, Sugiyanto, yang notabene adalah atasan Benny Jensenem di instansi yang sama.
"Karena waktu itu Persipura memutuskan manajer timnya Kepala Inspeksi Pajak, Drs. Sugiyanto, itu saya punya bos. Terus Pak Sugiyanto bilang, oke saya terima tugas itu, tapi harus ikut saya punya mau. Saya pilih pelatih dari Bandung. Karena dia memang orang Bandung, jadi dia sangat hobi dengan sepak bola dan dia kenal dengan Omo Suratmo. Jadi mungkin biar bisa sehati," tutur Benny.
Jalan Berduri Menuju Tangga Juara
Ajang Piala Presiden Soeharto III tahun 1976 yang dihelat di Jakarta itu mencatatkan sejarah tersendiri bagi Persipura, karena menjadi turnamen bergengsi memperebutkan trofi orang nomor satu di Indonesia yang pertama kalinya diikuti oleh Persipura.
Keberhasilan Mutiara Hitam menembus panggung elit nasional tersebut bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah dari prestasi gemilang mereka sebagai salah satu dari empat tim teratas yang lolos melalui jalur kejuaraan amatir nasional tahun 1975, bersanding bersama tim-tim kuat lainnya dan juara bertahan PSM Ujung Pandang.
Pada tahun 1976, tampuk kepemimpinan Gubernur Irian Jaya memang sudah berganti. Di mana posisi tersebut dipegang oleh Soetran yang dikenal dengan julukan 'Gubernur Cengkeh', menggantikan Acub Zainal yang sebelumnya memimpin.
Kendati demikian, semangat juang tinggi dan mentalitas pantang menyerah yang ditanamkan oleh Acub Zainal masih tetap tertanam dalam jiwa tim Mutiara Hitam.
Turnamen Piala Soeharto III menggunakan sistem kompetisi penuh. Hanya ada satu klasemen yang mempertemukan lima kontestan. Persipura, Persebaya Surabaya, Persija, PSMS, dan PSM.
Perjalanan Persipura di bawah komando Omo Suratmo menapaki jalan yang terjal serta penuh drama dari pertandingan ke pertandingan. Tak ada yang menyangka, mereka mampu melangkah jauh.
Pada 9 April 1976, langkah awal Persipura langsung diuji oleh raksasa ibu kota, Persija Jakarta, di mana Mutiara Hitam sempat mencetak gol lewat aksi Jacobus Mobilala pada menit ke-21, namun Persija mampu membalikkan keadaan melalui gol-gol Risdianto pada menit ke-32 dan Andi Lala pada menit ke-34, membuat Persipura takluk dengan skor tipis 1-2.
Selanjutnya, Persipura meladeni perlawanan sengit Persebaya Surabaya pada 11 April 1976 dalam pertandingan sarat gol di mana Persebaya sempat memimpin lewat Waskito dan Hartono, namun Persipura memberikan perlawanan tangguh melalui gol Nico Pattipeme pada menit ke-15 dan Jacobus Mobilala pada menit ke-55. Laga itu berakhir sama kuat (2-2).
Ujian berikutnya hadir pada 15 April 1976, ketika menghadapi juara bertahan PSM Ujung Pandang. Persipura nyaris tersandung setelah tertinggal lebih dulu oleh gol cepat Abdi Tunggal pada menit ke-15, sebelum racikan strategi Omo Suratmo di paruh babak kedua membuahkan hasil mengejutkan melalui gol penyama Timo Kapisa dan gol kemenangan Pieter Attiamuna pada menit ke-89. Persipura menang 2-1.
Laga penentuan tersaji pada 17 April 1976 kontra PSMS Medan, diwarnai sebuah insiden ketika laga terpaksa dihentikan pada menit ke-26 saat kedudukan imbang 1-1, setelah gol Parlin Siagian dibalas Persipura.
Akibat protes keras dari kubu PSMS terhadap keputusan wasit, panitia memutuskan memberikan kemenangan WO bagi Persipura dengan skor telak 6-1, berdasarkan akumulasi sanksi administratif turnamen.
Klasemen grup dipuncaki Persija dengan enam poin, dan Persipura menyusul di posisi runner-up dengan raihan lima poin dari dua kali menang, satu kali imbang, dan satu kali kalah dengan agregat gol sebelas berbanding enam. Aturan turnamen ketika itu, dua tim teratas berhak melaju ke partai puncak.
Hari Bersejarah di Senayan
Laga final yang dihelat pada 19 April 1976 di Stadion Utama Senayan menjadi panggung paling dramatis dalam sejarah turnamen Piala Soeharto. Bertanding di hadapan puluhan ribu suporter tuan rumah, Persipura yang diarsiteki Omo Suratmo tampil tanpa rasa takut menghadapi tuan rumah Persija yang diperkuat bintang-bintang Timnas seperti Iswadi Idris dan Risdianto.
Strategi serangan kilat racikan Omo Suratmo menghancurkan lini pertahanan Macan Kemayoran. Gelombang serangan Mutiara Hitam sukses merobek jala Persija tiga kali di babak pertama, yang dicetak Nico Pattipeme (11'), Jacobus Mobilala (27'), dan Pieter Attiamuna (31'). Persija sempat membalas lewat gol Risdianto (36') dan Iswadi (41'). Skor 3-2 untuk keunggulan Persipura hingga turun minum.
Persipura memperbesar keunggulannya lewat kaki Timo Kapisa (67'), sebelum Persija menambah golnya lagi oleh Iswadi (90'). Skor 4-3 bertahan hingga pertandingan berakhir. Persipura sukses merengkuh trofi nasional pertamanya. Sedangkan Persija kembali gagal menjadi juara dan mencatatkan tiga kali runner up berturut-turut.
Jurnalis olahraga senior Papua dan pemerhati sejarah sepak bola Papua, Dominggus Mampioper mengatakan gelar juara Piala Soeharto itu berhasil diboyong Persipura ketika dilatih Omo Suratmo.
"Iya, Omo Suratmo yang latih Persipura waktu itu. Persipura sukses menjadi juara Piala Soeharto III yang digelar tahun 1976," kata Dominggus.
Benny Jensenem mengenang besarnya apresiasi dan bonus yang diterima skuad Persipura usai berhasil menjadi juara saat itu.
"Jadi yang juara yang paling top itu di Soeharto Cup III. Itu satu orang Rp300.000 lah. Kita dapat uang dari Presiden Soeharto Rp 5 juta. Jadi selain piala, ada uang Rp 5 juta. Itu kita bagi rata untuk 22 orang. Tapi hadiah lainnya itu sepeda motor," kata Benny.
Suka cita kemenangan tersebut juga terekam dalam kenangan salah satu legenda Persipura, Yafet Sibi. Ia menceritakan bagaimana euforia kejayaan Persipura itu diabadikan menjadi sebuah lagu oleh grup musik Black Brothers.
"Tahun 1976 itu kita juara Soeharto Cup. Black Brothers langsung ciptakan lagu. Saya diajak oleh manajernya, Andy Ayamiseba ke Ancol. Mereka ciptakan lagu Persipura itu," kenang Yafet.
Usai berhasil mengantarkan Persipura menjuarai Piala Soeharto 1976, Omo Suratmo kemudian melanjutkan kariernya ke Kalimantan. Ia telah mengubah reputasi Persipura dari klub daerah menjadi kekuatan nasional yang disegani oleh klub-klub elit perserikatan ketika itu.
Fondasi yang diletakkan Omo turut menyumbangkan banyak bakat emas Persipura bagi Timnas Indonesia di tahun-tahun berikutnya, seperti Timo Kapisa, Yafet Sibi, dan Johanes Auri.
