Boaz Solossa dan Sepak Bola yang Menemukan Rumahnya di Jayapura

Boaz Solossa dan Sepak Bola yang Menemukan Rumahnya di Jayapura

JAYAPURA — Ada pemain yang dikenang karena gol dan gelar juara. Namun, bagi Persipura Jayapura, Boaz Solossa memiliki arti lebih dari itu. Ia merupakan bagian dari generasi yang membawa Mutiara Hitam menjadi kekuatan besar sepak bola Indonesia sekaligus simbol kebanggaan masyarakat Papua.

Persipura bukan sekadar tempat Boaz bermain. Klub tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan karier dan identitasnya sebagai pesepak bola.

Ikatan itu terlihat ketika Boaz memutuskan kembali ke Persipura pada 2022, setelah klub tersebut terdegradasi ke Liga 2. Usai memperkuat PSS Sleman, ia memilih pulang ke klub yang membesarkan namanya.

“Persipura sebenarnya bukan di tempat Liga 2. Jadi ketika saya ditawarkan untuk kembali ke Persipura, saya langsung putuskan ingin kembali,” kata Boaz.

Kepulangannya bukan sekadar perpindahan klub. Ada keinginan untuk membantu Persipura bangkit dari masa sulit.

*Dari Keluarga Menuju Panggung Nasional*

Perjalanan Boaz tidak terlepas dari lingkungan keluarga yang dekat dengan sepak bola. Ayahnya, Cristian Solossa, mengenalkannya pada olahraga tersebut sejak kecil. Ia juga memiliki saudara yang menekuni sepak bola, termasuk Ortizan Solossa, yang kemudian menjadi bagian penting Persipura.

Namun, jalan menuju karier profesional tidak selalu mudah. Setelah ayahnya meninggal ketika Boaz masih muda, keluarganya berharap ia memprioritaskan pendidikan. Keinginannya menjadi pesepak bola profesional sempat menghadapi tantangan.

Boaz tetap menekuni sepak bola. Pada 2000, ia bergabung dengan tim muda Perseru Serui sebelum masuk Persipura Junior pada 2002.

Namanya mulai mencuri perhatian ketika tampil bersama tim sepak bola Papua pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2004 di Sumatera Selatan. Dengan torehan 10 gol, Boaz menjadi pencetak gol terbanyak dan ikut mengantarkan Papua meraih medali emas bersama Jawa Timur setelah kedua tim berbagi gelar.

Pada tahun yang sama, ia mendapat kesempatan memperkuat Timnas Indonesia yang dipersiapkan untuk Piala Tiger 2004. Bakatnya pun semakin dikenal di tingkat nasional.

Kecepatan, keberanian menghadapi lawan, dan ketajamannya di depan gawang membuat Boaz menjadi salah satu penyerang yang disegani. Ia berkembang bersama Persipura hingga menjadi bagian penting dari generasi emas klub tersebut.

*Menjadi Simbol Kejayaan Mutiara Hitam*

Persipura memasuki masa kejayaan dengan dukungan pemain-pemain yang memiliki karakter kuat. Boaz menjadi salah satu wajah utama generasi tersebut.

Bersama rekan-rekannya, ia ikut mengantarkan Persipura meraih gelar juara liga pada 2005, 2008–2009, 2010–2011, dan 2013. Prestasi tersebut menempatkan Mutiara Hitam sebagai salah satu klub paling sukses dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Boaz bukan hanya diandalkan untuk mencetak gol. Ia berkembang menjadi kapten dan figur yang merepresentasikan karakter permainan Persipura.

Di Jayapura, keberhasilan itu memiliki makna tersendiri. Bagi banyak pendukung, melihat pemain yang tumbuh dari lingkungan sepak bola Papua bersaing di tingkat nasional merupakan kebanggaan. Boaz menjadi salah satu sosok yang menunjukkan bahwa talenta dari Indonesia timur mampu berdiri di panggung utama sepak bola Indonesia.

Hubungan tersebut tidak hanya dibangun melalui kemenangan, tetapi juga melalui perjalanan panjang yang mempertemukan pemain, klub, dan masyarakat.

Setelah meninggalkan Persipura pada 2021, Boaz melanjutkan karier bersama klub lain. Perpisahan itu tidak berlangsung mudah. Ia mengaku kecewa dengan situasi yang terjadi, tetapi tetap menyampaikan kecintaannya kepada klub tersebut.

“Saya cinta Persipura, karena Persipura-lah yang membesarkan saya punya nama,” ujar Boaz.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa perpisahan profesional tidak serta-merta menghapus ikatan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.

*Kembali untuk Membantu Persipura*

Kini, Boaz kembali mengenakan seragam merah-hitam Persipura. Pengalamannya menjadi bekal penting ketika klub berusaha kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Pada usia 40 tahun, ia berada di antara generasi yang pernah merasakan kejayaan Mutiara Hitam dan para pemain muda yang sedang membangun masa depan klub.

Perannya tidak hanya berkaitan dengan gol. Boaz juga menjadi salah satu figur senior yang diharapkan dapat membagikan pengalaman kepada pemain muda. Pada September 2026, ia mendukung peminjaman Markus Madjar ke PSS Sleman untuk memperoleh kesempatan bermain lebih banyak.

“Kami ingin Markus mendapatkan jam terbang yang berkualitas,” ujar Boaz.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa perhatian Boaz terhadap Persipura juga menyangkut keberlanjutan generasi. Klub membutuhkan pemain yang mampu bersaing saat ini sekaligus menyiapkan talenta untuk masa depan.

Persipura kini membidik promosi ke Super League untuk musim 2027/2028. Target tersebut tentu membutuhkan kerja kolektif, konsistensi, dan dukungan dari berbagai pihak. Boaz tidak bisa memikulnya sendirian, tetapi pengalamannya bersama generasi emas menjadi modal berharga bagi perjuangan Mutiara Hitam.

Ia pernah menjadi bagian dari tim yang membawa Persipura ke puncak. Kini, ia kembali berada di tengah perjuangan untuk mengantarkan klub itu menuju panggung tertinggi sepak bola Indonesia.

Warisan seorang pemain tidak selalu berhenti ketika masa terbaiknya di lapangan berlalu. Bagi Persipura, Boaz merupakan bagian dari sejarah kejayaan sekaligus sosok yang masih bisa berkontribusi bagi perjalanan klub.

Sepak bola telah membawanya ke berbagai stadion dan mempertemukannya dengan banyak lawan. Namun, ada satu tempat yang selalu memiliki arti khusus dalam perjalanan kariernya.

Bagi Boaz Solossa, rumah itu bernama Persipura Jayapura.

more

Berita Lainnya

Jangan Lewatkan Update Terbaru