Persipura dan Jejak Panjang Pemain Papua di Timnas Indonesia

Persipura dan Jejak Panjang Pemain Papua di Timnas Indonesia

Ada masa ketika menyebut sepak bola Papua berarti menyebut Persipura Jayapura. Dari Jayapura, sejumlah pemain terbaik Papua tumbuh, ditempa, lalu bergerak menuju panggung yang lebih luas yaitu tim nasional Indonesia. Mereka datang dari generasi berbeda, dengan karakter dan posisi yang beragam. Namun, ada satu kesamaan yang menghubungkan mereka adalah Persipura.

Hubungan itu tidak terbentuk dalam semalam. Ia tumbuh bersama perjalanan Persipura sejak klub tersebut menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola Indonesia. Dalam rentang puluhan tahun, Mutiara Hitam bukan hanya menjadi tempat para pemain Papua membangun karier, tetapi juga menjadi semacam jembatan menuju tim nasional.

Nama-nama seperti Rully Nere, Eduard Ivakdalam, Jendry Pitoy, Ricardo Salampessy, Boaz Solossa, hingga Ramai Rumakiek merupakan bagian dari mata rantai panjang tersebut. Mereka datang pada zaman yang berbeda. Seragam tim nasional yang mereka kenakan pun berganti desain dan sponsor. Sistem kompetisi berubah. Nama turnamen regional pun beberapa kali berubah. Namun, satu hal tetap yakni pemain Persipura selalu memiliki ruang dalam percakapan mengenai Timnas Indonesia.

Dari Rully Nere

Jauh sebelum Boaz Solossa menjadi ikon sepak bola Papua, ada Rully Nere. Rully merupakan salah satu pemain Papua yang menembus panggung sepak bola nasional pada generasi awal. Namanya kemudian menjadi bagian dari sejarah tim nasional sekaligus sepak bola Papua.

Ia bermain pada era ketika akses pemain dari Indonesia bagian timur menuju pusat sepak bola nasional belum semudah sekarang. Perjalanan pemain Papua ke Jakarta, Surabaya, Bandung, atau kota-kota lain bukan sekadar perpindahan klub. Ada jarak geografis dan kebudayaan yang harus ditempuh.

Karena itu, keberhasilan pemain seperti Rully Nere mempunyai arti lebih besar daripada sekadar statistik pertandingan. Ia menunjukkan bahwa talenta dari Papua dapat berdiri sejajar dengan pemain dari pusat-pusat sepak bola Indonesia lainnya. Kelak, jejak itu diikuti generasi berikutnya.

Eduard Ivakdalam dan Persipura sebagai Rumah

Pada 1990-an, nama Eduard Ivakdalam mulai mengambil tempat penting dalam cerita tersebut. Lahir di Merauke, Eduard menjadi salah satu gelandang paling identik dengan Persipura. Ia menghabiskan 16 tahun bersama Mutiara Hitam dan mencatatkan 218 penampilan. Bersama Persipura, ia turut membawa klub itu menjuarai Liga Indonesia pada 2005 dan 2008-2009.

Di tim nasional, Eduard bermain pada periode 1996 hingga 2004. Ia memang tidak memiliki jumlah penampilan sebanyak beberapa pemain Indonesia lain pada masanya. Namun, keberadaannya penting karena memperlihatkan pola yang kemudian berulang yakni pemain yang berkembang bersama Persipura mendapat kesempatan mengenakan seragam Merah Putih.

Eduard juga menjadi bagian dari tim Indonesia yang meraih medali perak SEA Games 1997. Yang menarik, perjalanan Eduard tidak berhenti ketika ia meninggalkan lapangan.

Bertahun-tahun kemudian, ia kembali bekerja untuk sepak bola Papua melalui dunia kepelatihan. Pada PON Papua 2021, misalnya, Eduard menjadi pelatih tim sepak bola putra Papua yang meraih medali emas. Seolah-olah siklus itu kembali ke titik awal. Pemain yang dahulu tumbuh dari sepak bola Papua kemudian menjadi orang yang membentuk pemain-pemain berikutnya.

Ketika Persipura Menjadi Kekuatan Nasional

Awal 2000-an membawa perubahan besar bagi Persipura. Mutiara Hitam tidak lagi sekadar dikenal sebagai klub kuat dari kawasan timur Indonesia. Persipura mulai menjadi kekuatan yang secara konsisten diperhitungkan dalam kompetisi nasional.

Pada saat yang sama, muncul satu generasi pemain Papua yang kemudian mengubah wajah klub tersebut. Ada Ian Louis Kabes. Ada Ricardo Salampessy. Ada Yustinus Pae. Ada Gerald Pangkali. Ada Christian Warobay. Dan tentu saja, ada Boaz Solossa.

Sebagian dari mereka tumbuh dalam lingkungan sepak bola Papua dan menjadi bagian dari Persipura. Beberapa di antaranya juga merupakan bagian dari generasi Papua yang meraih medali emas sepak bola PON.

Eduard Ivakdalam pernah menggambarkan bagaimana Persipura ketika itu menggabungkan pemain senior dengan pemain muda hasil pembinaan dan PON. Dalam skuad juara Liga Indonesia 2005, misalnya, terdapat pemain muda seperti Boaz Solossa dan Christian Warobay yang berbaur dengan pemain-pemain senior.

Kombinasi itu kemudian menghasilkan salah satu periode paling kuat dalam sejarah Persipura. Dan ketika Persipura semakin kuat di level klub, pintu tim nasional ikut terbuka.

Boaz Solossa, Wajah Generasi Baru

Jika Eduard adalah simbol generasi sebelumnya, Boaz Solossa menjadi wajah generasi baru. Boaz muncul sebagai pemain muda dengan karakter permainan yang berbeda. Cepat, eksplosif, berani berhadapan satu lawan satu, dan memiliki kemampuan mencetak gol.

Tim nasional kemudian menjadi panggung lain bagi Boaz. Ia menjalani debut internasional pada 2004 dan pada akhirnya mengumpulkan 48 penampilan serta 14 gol untuk Indonesia menurut catatan RSSSF.

Namun, perjalanan Boaz bersama tim nasional juga menyimpan sebuah episode pahit. Pada 2007, ketika Indonesia bersiap menjadi salah satu tuan rumah Piala Asia, Boaz sebenarnya masuk dalam daftar pemain yang dipanggil untuk mengikuti seleksi.

Bersama kiper Jendry Pitoy dan bek Ricardo Salampessy, ia menjadi bagian dari kelompok pemain Persipura yang diproyeksikan memperkuat Indonesia. Namun, dalam pertandingan uji coba melawan Hong Kong pada 1 Juni 2007, Boaz mengalami cedera patah tulang fibula dan pergeseran pergelangan kaki kanan.

Cedera itu membuatnya kehilangan kesempatan tampil di Piala Asia 2007. Dalam skuad final Indonesia pada turnamen tersebut, Jendry Pitoy dan Ricardo Salampessy tetap masuk daftar pemain. Boaz tidak.

Bagi Boaz, itu adalah salah satu kesempatan besar yang terlewat. Bagi Persipura, peristiwa tersebut sekaligus menunjukkan betapa banyaknya pemain Mutiara Hitam yang ketika itu berada di radar tim nasional.

Ramai Rumakiek dan Generasi Setelah Boaz

Setelah generasi Boaz Solossa, Persipura kembali melahirkan pemain yang mendapatkan tempat di Timnas Indonesia. Salah satunya adalah Ramai Rumakiek.

Ramai menjadi gambaran generasi baru sepak bola Papua yang tumbuh setelah era keemasan Boaz dan kawan-kawan. Lahir di Jayapura pada 19 April 2002, Ramai merupakan produk pembinaan Persipura dan mulai mendapatkan kesempatan bermain di tim senior Mutiara Hitam ketika masih berusia muda.

Posisinya sebagai pemain sayap membuat Ramai memiliki karakter permainan yang berbeda dari sejumlah pendahulunya. Ia mengandalkan kecepatan, keberanian melakukan penetrasi, serta kemampuan bermain di ruang-ruang sempit. Kualitas tersebut kemudian membawanya ke tim nasional.

Pada 2022, Ramai mendapatkan panggilan ke Timnas Indonesia untuk mengikuti agenda FIFA Matchday. Ia kemudian mencetak gol pada laga debutnya ketika Indonesia menghadapi Timor-Leste dalam pertandingan persahabatan di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, pada Januari 2022.

Gol itu menjadi penanda penting. Seorang pemain muda dari Persipura kembali mencetak gol untuk Timnas Indonesia. Jika Boaz pada awal 2000-an menjadi simbol generasi yang membawa Persipura menuju puncak kejayaan kompetisi domestik, Ramai hadir ketika situasinya sudah berbeda.

Persipura tidak lagi berada pada posisi dominan seperti satu dekade sebelumnya. Klub tersebut bahkan mengalami masa sulit setelah terdegradasi dari kompetisi kasta tertinggi Indonesia pada akhir musim 2021-2022.

Karena itu, perjalanan Ramai memiliki konteks yang berbeda. Ia muncul ketika Persipura sedang berusaha mempertahankan tradisi pembinaan pemain Papua di tengah perubahan besar dalam sepak bola nasional.

Lebih dari Sekadar Mengirim Pemain

Ada kecenderungan untuk melihat hubungan klub dan tim nasional melalui angka yakni berapa pemain yang dipanggil, berapa penampilan yang dibuat, atau berapa gol yang dicetak. Persipura memberikan cerita yang sedikit berbeda.

Klub itu menjadi bagian dari ekosistem sepak bola Papua. Pemain tidak selalu datang ke Persipura sebagai pemain yang sudah jadi. Sebagian tumbuh dari kompetisi lokal, pembinaan usia muda, atau lingkungan sepak bola Papua sebelum kemudian memperoleh kesempatan di level yang lebih tinggi.

Karena itu, ketika seorang pemain Persipura dipanggil ke tim nasional, perjalanan tersebut sebenarnya dimulai jauh sebelum surat pemanggilan dari PSSI datang. Ada lapangan-lapangan kecil di Papua. Ada kompetisi lokal. Ada keluarga. Ada pelatih. Ada PON. Dan pada satu titik, ada Persipura yang menjadi panggung untuk menunjukkan bahwa pemain tersebut layak diperhitungkan secara nasional.

Dari Jayapura ke Timnas

Jejak tersebut membuat Persipura memiliki posisi khusus dalam sejarah tim nasional. Klub-klub lain tentu memiliki kontribusi yang sama pentingnya. Namun, Persipura memiliki cerita yang khas karena kontribusinya tidak bisa dilepaskan dari perkembangan sepak bola Papua.

Rully Nere membuka salah satu jalan. Eduard Ivakdalam meneruskannya. Kemudian datang generasi Boaz Solossa dan rekan-rekannya. Lalu hadir Ramai Rumakiek. Mereka bukan sekadar pemain yang kebetulan memperkuat Persipura dan Timnas Indonesia.

Mereka menjadi bagian dari rantai pembinaan sepak bola Papua yang menghubungkan Jayapura dengan Jakarta, Stadion Mandala dengan Gelora Bung Karno, dan sepak bola daerah dengan panggung internasional.

Di situlah arti penting Persipura dalam sejarah tim nasional menjadi lebih jelas. Persipura bukan hanya tentang trofi. Bukan hanya tentang rivalitas. Bukan hanya tentang stadion Mandala yang pernah menjadi salah satu benteng paling sulit ditembus lawan.

Persipura adalah tentang bagaimana sebuah klub dari ujung timur Indonesia mampu melahirkan pemain yang kemudian mengenakan lambang Garuda di dada. Dan selama sepak bola Papua masih melahirkan anak-anak yang bermimpi menjadi pemain profesional, cerita itu belum selesai.

Sebab, mungkin saja di antara mereka ada pemain berikutnya yang kelak mengikuti jalan Rully Nere, Eduard Ivakdalam, Ricardo Salampessy, Boaz Solossa, atau Ramai Rumakiek. Dari sebuah lapangan di Papua, menuju Persipura. Dari Persipura, menuju Timnas Indonesia.

more

Berita Lainnya

Jangan Lewatkan Update Terbaru