Ricardo Salampessy, Tembok dari Timur yang Menjaga Kejayaan Persipura
Ada masa ketika Stadion Mandala di Jayapura menjadi tempat yang membuat banyak tim datang dengan kewaspadaan lebih. Di sana, Persipura Jayapura tumbuh sebagai kekuatan yang sulit ditandingi dalam sepak bola Indonesia.
Di balik gemuruh penonton dan nama-nama besar seperti Boaz Solossa, terdapat pemain yang pekerjaannya justru lebih sering luput dari sorotan. Ia tidak selalu menjadi pencetak gol. Namanya tidak selalu muncul di papan skor. Namun, ketika serangan lawan datang, dialah salah satu orang pertama yang harus berdiri di antara bola dan gawang Persipura.
Namanya Ricardo Salampessy. Bek berdarah Maluku itu menjadi bagian penting dari perjalanan panjang Persipura pada era keemasannya. Ketika lini depan Persipura memiliki Boaz sebagai tumpuan serangan, Salampessy menjalankan pekerjaan yang berbeda di belakang. Ia menjaga agar keunggulan yang dibangun rekan-rekannya tidak mudah runtuh.
Di sepak bola, pekerjaan seorang bek sering kali baru terlihat ketika sesuatu berjalan salah. Satu tekel, satu intersep, atau satu duel udara yang dimenangi mungkin tidak menghasilkan tepuk tangan sebesar sebuah gol. Namun, pekerjaan-pekerjaan kecil itulah yang membuat sebuah tim mampu bertahan. Salampessy menjalani peran tersebut selama bertahun-tahun bersama Persipura.
Menjadi Bagian dari Generasi Emas
Salampessy bergabung dengan Persipura pada pertengahan dekade 2000-an. Kedatangannya bertepatan dengan periode ketika klub berjuluk Mutiara Hitam itu mulai membangun salah satu generasi terbaik dalam sejarahnya.
Persipura memiliki banyak pemain yang kemudian menjadi wajah sepak bola Papua dan Indonesia. Boaz Solossa menjadi simbol klub. Ortizan Solossa menjadi salah satu pemain penting di lini belakang. Ian Kabes tumbuh sebagai gelandang kreatif. Immanuel Wanggai menjadi pengatur permainan.
Di antara nama-nama tersebut, Salampessy mengambil tempat sebagai salah satu penjaga pertahanan. Ia bukan sekadar pelengkap dalam tim bertabur talenta itu.
Pada 2007, Salampessy mendapat penghargaan sebagai pemain belakang terbaik dalam ajang Bintang Emas Dji Sam Soe. Pengakuan tersebut menjadi salah satu penanda bahwa kualitasnya tidak hanya dihargai di lingkungan Persipura, tetapi juga di tingkat sepak bola nasional.
Persipura pada masa itu bukan hanya klub yang mengejar kemenangan. Mereka membangun identitas. Pemain-pemain Papua menjadi tulang punggung. Sepak bola dimainkan dengan karakter yang kemudian membuat Persipura memiliki tempat tersendiri dalam peta sepak bola Indonesia. Salampessy menjadi bagian dari cerita itu.
Dari Lapangan ke Pinggir Lapangan
Karier seorang pesepak bola pada akhirnya akan sampai pada batas. Tubuh yang dahulu mampu berlari sepanjang pertandingan perlahan meminta waktu untuk berhenti. Namun, hubungan seorang pemain dengan klub tidak selalu berakhir ketika sepatu ditanggalkan.
Bagi Salampessy, Persipura memiliki tempat yang berbeda. Setelah perjalanan panjang sebagai pemain, ia kembali ke klub tersebut dalam peran yang lain. Kali ini bukan sebagai orang yang berdiri di depan lawan untuk memutus serangan. Ia berada di pinggir lapangan. Sebagai pelatih.
Pada Desember 2023, Salampessy dipercaya menangani Persipura untuk menghadapi babak play-off degradasi Liga 2. Ketika menerima tawaran tersebut, ia tidak membutuhkan waktu lama untuk mengambil keputusan.
“Panggilan hati, tidak ada keraguan sama sekali ketika dihubungi oleh manajemen Persipura,” kata Salampessy.
Kalimat itu mungkin sederhana. Namun, bagi Salampessy, Persipura memang bukan sekadar tempat bekerja. Klub tersebut ikut membesarkan namanya sebagai pemain. Di sana ia melewati sebagian besar perjalanan profesionalnya. Di sana pula ia menjadi bagian dari generasi yang membawa Persipura ke puncak sepak bola Indonesia. Karena itu, ketika klub memanggilnya kembali dalam keadaan sulit, ia datang.
“Saya tergerak ketika dihubungi dari manajemen untuk menangani tim ini, saya tidak pikir panjang, saya langsung menyanggupi itu dan siap untuk membantu tim ini,” ujar Salampessy.
Ada perbedaan besar antara kembali sebagai pemain dan kembali sebagai pelatih. Dulu, ia menjaga pertahanan. Kini, ia harus memikirkan bagaimana sebuah tim bermain selama 90 menit.
Ia harus membaca pertandingan, menentukan strategi, membangun kepercayaan pemain, sekaligus menghadapi tekanan hasil. Tetapi ada satu hal yang tidak berubah yaitu perasaannya terhadap Persipura.
“Selalu menjadi perasaan yang senang sekali ketika menjadi bagian dari tim Persipura,” katanya.
Menjaga Warisan Mutiara Hitam
Di sinilah perjalanan Salampessy menjadi menarik. Ia bukan hanya mantan pemain yang kemudian menjadi pelatih. Ia adalah salah satu orang yang mengalami sendiri dua wajah Persipura yakni ketika klub berada di puncak dan ketika klub harus berjuang mempertahankan eksistensinya.
Ia tahu bagaimana rasanya bermain di Stadion Mandala ketika tribun dipenuhi pendukung. Ia tahu bagaimana tekanan untuk menang hadir bersama seragam merah-hitam. Ia juga tahu bagaimana rasanya menjadi bagian dari sebuah generasi yang membuat Persipura disegani.
Pengalaman itu kemudian menjadi bekal ketika ia kembali sebagai pelatih. Ia membawa ingatan tentang Persipura yang pernah berjaya. Ingatan tentang ruang ganti. Tentang rekan-rekan setim. Tentang pertandingan besar. Tentang tuntutan untuk selalu memberikan yang terbaik. Dan mungkin, yang paling penting, tentang rasa memiliki.
“Tidak ada yang berubah dari tim ini, selalu ada perasaan senang ketika menjadi bagian dari tim Persipura. Kemarin sebagai pemain, dan kini saya datang sebagai pelatih kepala,” ujar Salampessy.
Kalimat tersebut menggambarkan sebuah hubungan yang melampaui profesi. Bagi sebagian pemain, klub adalah tempat bekerja. Bagi Salampessy, Persipura tampaknya telah menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Tembok yang Berubah Menjadi Jembatan
Seorang bek bertugas menjaga sesuatu yang berada di belakangnya. Salampessy menjalankan tugas itu selama bertahun-tahun. Ia menjaga pertahanan Persipura, berdiri menghadapi serangan lawan, dan menjadi bagian dari tim yang menorehkan sejarah.
Namun, setelah karier sebagai pemain berakhir, tugasnya berubah. Ia tidak lagi menjaga gawang. Ia menjaga sesuatu yang lebih abstrak yaitu pengalaman, nilai, dan warisan Persipura. Di situlah Salampessy menjadi jembatan antara dua zaman.
Ia adalah bagian dari generasi yang pernah membawa Mutiara Hitam bersinar terang. Pada saat yang sama, ia juga menjadi salah satu orang yang memahami bahwa kejayaan masa lalu tidak cukup hanya dikenang. Warisan harus diteruskan.
Persipura boleh berganti pemain. Pelatih boleh berganti. Kompetisi boleh berubah. Namun, cerita tentang bagaimana sebuah klub dari ujung timur Indonesia pernah menjadi kekuatan besar sepak bola nasional tetap hidup di dalam orang-orang yang mengalaminya.
Salampessy adalah salah satunya. Dan ketika ditanya tentang keputusannya kembali ke Persipura, jawabannya sederhana.
“Persipura adalah panggilan hati.”
